jump to navigation

Burung besi April 12, 2008

Posted by mahardhikacellular in Sebuah kisah.
trackback

Burung Besi

“sebuah kisah wanita

muslimat amerika pertama

jadi pilot F16 “

Publikasi: 12/03/2005

Setelah Papa lulus dari sekolah penerbangan Perancis, beliau menikah dengan mamaku. Papa seorang kulit hitam, namanya Charles Jacquet, mamaku seorang kulit putih, namanya Isabell Louvrett. Keluargaku cukup demokratis, oleh karena itu, bagi Papa, pernikahan tidak memandang perbedaan kulit.

Cara berpikir itu pula yang mendorong Papa untuk pindah ke Amerika. Baginya dunia itu luas, di manapun kita berada, asal mau berusaha, pasti kita menjadi seseorang. Oleh karena itu kami pindah ke Portland. Papa ditawari menjadi penerbang di suatu perusahaan. Di sana beliau menjadi Pilot pesawat Air Bus dan menerbangkan pesawat ke banyak wilayah di Amerika.

Papa mempunyai sebuah cita-cita. Ada sebuah pesawat yang sangat dicintainya. Kecepatannnya luar biasa, mach2, selain itu bodinya sempurna. Pesawat kebanggaan Amerika ini menjadi cita-cita papaku. Namanya F-16.

“Voir ma dear, lihat sayang,” Ujar Papa suatu kali di pangkalan pesawat terbang, tempatnya bekerja. Beliau menunjuk ke sebuah pesawat indah. Itulah F-16. “Suatu hari, Papa akan menaikinya, begitu pula dengan Mama dan kamu ma pouppette.”

Saat itulah aku tahu, betapa tingginya cita-cita Papa. Beliau bukan berasal sekolah militer, dan bukan warga negara asli Amerika. Hampir tidak mungkin baginya untuk menjadi anggota AU Amerika. Tapi cita-cita itu tetap dipegangnya dengan teguh dalam hati. Ya, cita-cita indah tentang menaiki burung besi yang bagaikan seekor rajawali.

***

Tujuh tahun telah berlalu sejak kepindahan kami. Usiaku sudah 12 tahun. Papa kini menjadi salah satu pegawai yang disegani di perusahaannya. Mama juga meneruskan kuliahnya, dia mengambil jurusan sastra Perancis. Jelas terlihat pada dirinya, betapa ia masih mencintai Perancis. Di rumah pun, bahasa Inggris masih terbatas pemakaiannya. Hampir sepanjang hari mama berbicara dengan bahasa Perancis. Terkadang kalau kami bepergian dengan taksi, mama suka tiba-tiba berkata, “Conduisez-moi a…ups, I mean, take me to…” Kalau sudah begitu, papa dan aku hanya bisa tertawa kecil.

Teman-temanku di sekolah pun cukup heran dengan keberagaman keluargaku. Apalagi kalau ada pertemuan orangtua murid di sekolah. Guru-guruku selalu memanggil nama mamaku bekali-kali, padahal beliau sudah ada di hadapan mereka. Maklum, kulitku hitam seperti Papa, walaupun mataku biru seperti mama. Tapi ini semua membuatku bangga. Tidak semua anak beruntung sepertiku. Ya, kan?

Segala sesuatunya berjalan normal, Papa bekerja, Mama kuliah, dan aku sekolah. Tapi suatu hari, sesuatu yang benar-benar merubah kami sekeluarga.

“ Jai faim, Mama. Saya lapar, Mama,” ujarku kepada Mama ketika tiba-tiba Papa masuk tanpa mengetuk pintu dahulu. Karena Papa baru pulang setelah seminggu penuh bekerja, aku segera berlari menujunya, biasanya, Papa akan langsung menggendongku sambil mengajakku bercanda. Tapi hari itu, dia hanya mengelus kepalaku, sambil tersenyum, dalam sekali. Lalu, tanpa basa-basi, Papa memeluk Mama, dan mulai menangis, pelan. Saat itu, pertama kalinya aku melihat laki-laki yang paling kubanggakan menangis seperti itu. Saat itu, aku hanya memandangi, dan tidak tahu apa yang terjadi .Ketika melihatku, Mama segera berkata, “Aller pour tranguille, dear, I’ll bring your dinner, in a few minutes, okay?” ujar Mama lembut. Aku lalu naik ke atas dengan perasaan bingung. Selama 3 jam Mama dan Papa ngobrol di bawah, sepertinya menggunakan bahasa Perancis yang “complicated” sekali. Perutku yang lapar tidak terasa lagi, aku hanya ingin tahu, ada apa di bawah sana.

================

Esok paginya aku terbangun. Rupanya semalam aku ketiduran. Cepat-cepat aku turun ke bawah. Hari ini hari Sabtu, sekolah libur. Begitu sampai di bawah, sudah ada Papa dan Mama menunggu di meja makan. Wajah mereka cerah sekali, bahkan jauh lebih tenang dari biasanya. Seperti ada jiwa baru di mata mereka yang membuat segala sesuatunya lebih baik.

“Bonjour, ma pouppete,” Ujar Papa sambil menenggak kopi hangatnya.

“How’s your sleep dear? Waktu mama ke kamarku semalam, kamu sudah tertidur. Jadi, pagi ini ada masakan istimewa, omelet kesukaanmu.” Keduanya tampak berseri. Tapi kebingunganku, belum juga reda. Papa melihat itu, lalu menyuruhku duduk di dekatnya.

“Siapa Tuhanmu, Anna?” Pertanyaan Papa yang aneh dan tidak biasa itu mengejutkanku. Papa belum pernah bertanya seperti itu, bahkan menyinggung-nyinggung hal itu pun jarang. Iya, kami merayakan natal setiap tahun, seperti orang lain. Setiap Paskah selalu ada ayam kalkun di meja makan. Terkadang kami ke gereja, di rumahku juga ada Bible. Tapi mempelajarinya? Membukanya pun, hanya pada saat-saat khusus itu. Papa, atau Mama, yang memang sangat demokratis, benar-benar tidak peduli tentang itu. Aku pun tidak, selama kami bahagia, itu sudah cukup. Tapi kujawab juga pertanyaan papa, sepanjang pengetahuanku.

“Yesus, Papa,” Jawabku.

“Lalu bagaimana dengan Tuhan Bapa?” Pertanyaan Papa benar-benar membingungkanku.

“D-Dia juga, Papa,” jawabku ragu.

“Lalu, Roh Kudus?” Hatiku gelisah, apa maksudmu Papa?

“Iya! Dia juga Tuhan!”

“Lalu, ada berapa Tuhan kalau begitu?” Aku teringat kata pastur yang masih membingungkanku sampai sekarang.

“Semuanya satu Papa, hanya satu!”

“Kamu yakin Anna? Apa tiga sama dengan satu?” Aku terdiam. Aku gelisah dan heran, apa maksud papa bertanya seperti ini. Lalu Papa merubah pertanyaannya.

“Menurutmu, kalau ada, misalnya, dua yang sempurna, diberi kesempatan untuk menguasai dunia, apa yang mereka lakukan?” Tanya Papa.

“Bi-bisa saja mereka berebut atau bekerja sama, Papa,” jawabku.

“Misalnya mereka bekerja sama, dan yang satu tidak setuju dengan yang lainnya apa yang bakal terjadi?”

“Me-mereka akan bertengkar Papa.”

“Tepat, my little, pouppete, satu lagi kalaupun mereka bekerja sama bukanlah pola pikir mereka sama, sehingga dalam menciptakan sesuatupun sama. Apakah perlu dua orang kalau begitu?” tanya Papa.

“Tidak Papa, satupun cukup.” Papa lalu tersenyum mendengar ucapanku.

“Kalau begitu, apa perlu Tuhan yang banyak?” Aku terdiam. Jauh di dalam hatiku seperti ada sinar terang. Ya, aku memang baru berumur dua belas tahun, tapi perasaan itu benar-benar terasa di dalam hatiku.

“Tidak Papa, cukup satu,” jawabku mantap. Tiba-tiba air mata Papa tumpah, Mama juga. Dengan suara bergetar, Papa bertanya.

“Terakhirdear, apa kamu percaya Tuhan?” Saat itu, bagaikan sekelilingku benar-benar sunyi senyap. Aku teringat betapa indah semua pertanyaan yang pernah kualami. Melihat bintang-bintang di planetarium, alam Perancis yang luar biasa, bukan hanya itu, segala sesuatu yang pernah kulihat selama ini Pasti ada yang membuat. Di pelajaran Biologi di sekolah, benda hidup tidak mungkin berasal dari benda mati. Kalau begitu, pasti segala sesuatu ini ada yang meciptakan, dan itu adalah…

“Ya, Papa. I believe in God.” Kedua orang tuaku tesenyum. Damai sekali. Tanpa sadar aku menitikan air mata, seperti aku baru terbangun dari mimpi panjang , dan pertama kali melihat cahaya. Rupanya ini yang membuat Papa menangis. Kembalinya keyakinan dalam dirinya. Ya, Papa telah menemukan Tuhannya. Dan kini aku ingin mengetahuinya.

“Allah, Tuhan kita, Anna.” Perlahan Papa mulai bercerita,” Papa menemukan Dia saat mendengar seorang teman Papa, muslim yang membaca kitabnya dengan bahasa yang asing sekali bagi Papa. Tapi hati Papa bergetar, walau tidak tahu artinya, hati Papa benar-benar tergetar. Saat Papa menanyakan artinya, teman Papa menjawab, ‘Sesungguhnya bumi Allah itu luas, dan rezeki Allah berlimpah di mana-mana’. Papa kaget. Itu prinsip hidup Papa selama ini! Papa tidak menyangka, prinsip hidup Papa yang selama ini banyak ditentang, ada di suatu kitab. Apa itu kebenaran? Lalu papa meminta teman Papa membacakannya ayat-ayat lain, dan hati Papa seperti disiram air sejuk.”

========

“Anna, Mama pun merasakan itu. Tadi malam Papamu menceritakan semuanya. Inilah yang Mama belum dapatkan selama ini. Islam! Menyembah Tuhan yang satu! Inilah jalan hidup yang Mama dan Papa cari. Bertahun-tahun, ya kau tahu sendiri Anna, hidup bahagia, tapi hati penuh kegelisahan. Dan kini, hanya dengan sepotong ayat saja, Papa dan Mama merasakan hidup yang sebenarnya. Anna, kau masih kecil, kami tidak memaksamu, tapi apa kau merasakan sesuatu? Coba rasakan di dasar hatimu, my little pouppete.”

Aku tidak bisa berkata, tapi kepalaku kuanggukan. Dengan penuh keyakinan. Ya, aku masih kecil, tapi aku sudah merasakannya, getaran itu benar-benar menggema ke seluruh tubuhku.

Pagi itu, sarapan kami terasa penuh makna. Seperti ruang-ruang kosong di relung hati, terisi sedikit demi sedikit. Bahkan sinar matahari pun terasa lebih jauh-lebih rendah.

***

Hari itu juga, kami ke rumah teman Papa, Mr.Ahmad Brown, dia sudah masuk Islam selama lima tahun. Dia Angkatan Udara Amerika Serikat yang sedang cuti. Papa bilang, di AU, perkembangan Islam sangat pesat. Terutama dari golongan orang kulit hitam.

Papa memiliki banyak kenalan dari AU, karena-seperti yang kalian tahu-kecintaannya pada pesawat F-16. Rupanya Papa mencuri-curi tahu ke mana saja pesawat itu berdinas, bagaimana onderdilnya, dan banyak lagi.

Kami bertiga diajak oleh teman Papa ke sebuah masjid sederhana di Portland. Tempat ini merupakan salah satu tempat syiar Islam yang masih jarang ditemukan di Portland. Kami bertiga masuk ke dalam dan melihat beberapa orang sedang sujud, membaca kitab, atau bergumam-gumam. Wajah mereka tenang sekali. Beberapa adalah orang Amerika asli, atau juga berkulit hitam seperti Papa. Tapi yang paling banyak adalah orang Asia. Teman Papa lalu mengajak kami bertemu pemimpin agama, pastur kalau di Kristen. Lalu secara sederhana, saat Papa minta diislamkan, dengan mata yang berkaca-kaca, dia menyuruh kami mengikuti perkataannya, “Asyhadu anla ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah, I witness that there is no God except Allah, and I witness that Muhammad is his messenger.” Singkat, tanpa perlu ritual berlebihan. Beliau lalu memberikan kami masing-masing sebuah kitab.

“This is Koran. Bacalah, pelajari. Tidak usah terlalu di buru. Ini juga sebuah kitab fiqih untuk mempelajari Islam, banyak buku yang bisa kalian pinjam dan pelajari, dan kami semua siap membantu. Apa saja. Bersabarlah, remember, Actually God is with whom is patient.”

***

Kami sekeluarga perlahan-lahan mulai mempelajari Islam. Setiap habis Maghrib, selama satu jam sampai waktu Isya’ kami belajar membaca Al-Qur’an. Kalau Papa pergi tugas, istri Mr. Ahmad yang membantu. Islam perlahan-lahan mulai menjadi tiang penyangga hidup kami.

***

Namun, tidak semuanya berjalan mulus. Terutama bagi Mama. Beliau mulai memakai kerudung. Dan pakaiannya, benar-benar mencerminkan muslimah. Tapi, teman-teman di kampusnya muali menjauhinya. Hanya beberapa yang, yang benar-benar demokratis mau berteman dengannya. Untunglah, teman-teman muslimah bertambah banyak. Sehingga Mama tidak merasa sendiri.

Tapi ada satu hal yang terberat. Saat Mama menceritakan keislamannya kepada orangtuanya, Grandma terutama, marah besar. Saat mama berbicara di telepon, air matanya tumpah. Lalu tiba-tiba ia diam, kemudian memanggil-manggil, “Mama, oh Mama, mama.” Teleponnya diputuskan. Mama hanya bisa bersandar di dada Papa sambil menangis. Papa terus berkata, “Actually God is with whom is patient, Ma Cherie. He is. He is.

===

Di sekolah, teman-temanku tetap bersikap baik. Bahkan mereka suka bertanya yang aneh-aneh. Seperti, “Dalam Islam, ada Santa Klausnya, nggak?” atau “Wah, asik dong. Kamu ngak usah ke gereja lagi tiap minggu.” Dan banyak komentar lagi komentar lain. Sekolahku memang multi etnik, dan sangat liberal. Selama tidak mengganggu mereka, semua akan seperti biasa saja. Walaupun ada juga orangtua atau guru yang sinis, hal itu tidak kupedulikan. Mereka saja yang berpikir terlalu sempit.

***

Setahun berlalu, tiba-tiba di negara bagian ini muncul desas-desus mengerikan. Kabarnya orang-orang kulit hitam banyak yang tiba-tiba menghilang. Banyak yang mengatakan bahwa mereka menjadi korban penculikan sekte-sekte fanatik ras kulit putih. Polisi, FBI, sudah diturunkan ke berbagai kota, tapi hasilnya secara konkret belum juga muncul. Papa sangat khawatir.

“Isabell, aku akan cuti. Atasanku memaklumi. Lagipula aku belum mengambil cutiku yang sebulan. Dan kini, tugasku untuk menjaga kalian. Setidak-tidaknya sampai keadaan mereda.

Oke? J’etaime I don’t want to lose you.”

Situasi benar-benar gawat. Sudah beberapa mayat yang hilang yang ditemukan, dengan kondisi memilukan. Para maniak itu bahkan selalu meninggalkan pesan mengerikan, bahwa tidak jarang jorok, ‘Die you Negros!, atau ‘Pig’s skin ever better than your!” dan banyak lagi. Perlindungan bagi kaum kulit hitam dari Harlem. Kemarin, mayat seorang pastur kulit hitam ditemukan. Aku khawatir dengan Papa.

“ Don’t worry ma pouppete. Allah with us. Kita harus berani, dan selalu waspada. Okay?”

Sampai hari itu. Hari dimana semua kebahagiaanku direnggut. Papa sedang berkendara dari kota. Kami sedang dalam pejalanan pulang. Karena ada pemblokiran jalan, kami terpaksa lewat jalan kecil. Malam itu sepi sekali.

Tiba-tiba di tengah jalan, tedengar bunyi tembakan. Papa cepat-cepat mengerem. Ternyata ban kami pecah. Lalu, muncul orang-orang bertudung putih, berjalan mendekat sambil membawa obor dan senjata. Pakaian mereka putih, dengan lambang salib terbalik. Aku ketakutan, Mama juga, tapi Papa memegang tangan kami sambil teus berkata, “Ingat, apapun yang terjadi, Allah selalu bersama kita, Macherie.”

===

Mereka menyuruh kami turun dari mobil. Kalau tidak, mereka mengancam kepala kami akan ditembak. Papa menurut. Lalu kami digiring ke dalam hutan, perjalanannya cukup jauh, aku ingin menangis, tapi aku percaya, aku harus kuat.

Kami tiba di sebuah lapangan luas. Di sana ada lebih banyak lagi orang-orang bertudung putih. Mereka beteriak kasar, bersorak-sorai, sambil membakar kayu-kayu.

Pandanganku lalu tertuju ke sebuah penjara kayu. Panjang, dan di dalamnya, banyak orang kulit hitam! Kami didorong ke sana. Tiba-tiba Mamaku ditarik lengannya.

“Lepaskan istriku!” Papa coba berontak. Mama berusaha untuk lepas, tapi sia-sia. Orang tiba-tiba berkata.

“Wanita ini seorang kulit putih. Tapi lihat! Keluarganya Negro, cih, menjijikan! Tubuhnya sudah ternoda oleh si hitam itu! Negro hina! Dan, apa ini?” Ujarnya sambil menarik kerudung Mama, “Ini benda yang dipakai wanita-wanita Islam itu. Cih! Ini lebih hina lagi. Tidak ada pantas-pantasnya, bahkan untuk di muka bumi ini! Mau apakan dia?” Ujarnya sambil berteriak keras.

“Bakar! Bakar! Bakar!” orang-orang itu muali menjadi liar. Lalu orang tadi berkata lagi,

“Semua ingin kau bakar. Tapi demi ras kulit putih kita, kuberi kau kesempatan. Tinggalkan keluargamu, juga Islammu. Kau akan kami bebaskan, setuju?” Papa tiba-tiba berteriak.

“Isabell! Lakukan! Lebih baik seorang dari kita selamat! Lakukan! Lakukan!” Tepat setelah itu. Kulihat mata biru mama dengan penuh keyakinan menatap tajam kepada orang itu, lalu berkata.

“Aku tidak akan melepaskan agamaku walaupun kulitku lepas dari dagingnya. Dan aku tidak akan meninggalkan keluargaku, walau nyawa taruhannya!” Orang itu gemetar, lalu memerintahkan orang-orangnya untuk mengurung mamaku juga. Kami dilempar ke dalam, bersama orang-orang kulit hitam lainnya. Tubuh mereka kurus sekali, badannya penuh luka. Banyak juga wanita dan anak-anak seusiaku. Beberapa tampak berasal dari keluarga miskin, tapi ada juga yang berada sepertiku. Seorang laki-laki tiba-tiba berbicara kepadaku.

“Hari ini mereka akan membunuh lima orang dari kita.” Lalu anak lain menyahut.

“Lalu, mayatnya dibawa entah kemana…seperti ayahku,” gadis kecil itu menerangkan, lalu menangis. Mamaku lalu memeluknya dan bertanya.

“Tidak adakah yang bisa kita lakukan?”

Tiba-tiba seorang berbisik kepada Papa. Papa mengangguk, sebentar wajahnya tenang, lalu pucat sekejap dan tenang kembali. Ada apa, Papa? Papa mendekat kepadaku dan Mama, lalu berkata pelan.

“Mereka telah mematahkan sala satu dari kayunya. Akan cukup bagi anak-anak dan wanita untuk keluar. Anna, kamu seorang pandu di sekolah, bawa mereka ke tempat pemblokiran polisi tadi, Isabell, kau jaga para wanita dan anak-anak ini. Okay?” belum sempat aku membantah, Mama cepat-cepat memotong sambil memegang kedua tangan Papa.

“Charles, bagaimana denganmu? Bagaimana kau keluar? A-aku tidak mau pergi sendiri!” Air mata mama mulai tumpah, Papa memandangku dengan sangat dalam. Lalu Mama jatuh ke pelukan Papa, menangis sambil mengucap nama Allah. Aku menyelinap masuk di antara mereka, dan ikut menangis.

***

“Ayo saatnya sudah tiba. Anna, bawa anak-anak keluar, juga para wanita. Depechez vous! Cepatlah! Mumpung mereka sedang tertidur, Papa dan lainnya akan menahan mereka dari sini! Cepat lari!” Setelah semuanya keluar, aku kembali ke Papa. Tidak, tidak mungkin aku meninggalkan Papa. Tepat saat semuanya berjalan sempurna, tepat saat kami menemukan kehidupan di jalan yang lurus. Aku tidak rela, Papaku yang kucinta. Sang Pilot yang kukagumi. Ma Papa.

“Ayolah Anna. Yang lain membutuhkanmu.”

“Tapi Papa, kenapa harus begini? Tidak Papa! Tidak!”

“Chest-la-vie. Kamu harus tabah, ma pouppet. Kalau Papa memang harus pergi bukankah Papa akan pegi ke tempat yang lebih baik? Ke sisi Allah. Prier to Dieau. Kita akan bertemu lagi, Okay?” Papa lalu mencium keningku, lama, sampai kurasakan air matanya mengalir di keningku.

“Come on, Anna dear,” Mama memanggilku. Dia Lalu mematap lekat kepadaku Papa.” A toute a I’huere. I’ll be missing you,” Lama sekali keduanya bertatapan, lalu dengan lembut Papa mencium kening Mama. Dan berkata berkali-kali.

“J’etaime macherie. J’etaime. J’etaime Isabell, J’etaime Anna. J’etaime…” Lalu perlahan dilepaskannya pegangannya,” Allez vous-en! Lari sejauh mungkin. Ingat pesan Papa, jaga Mamamu!”

“Soyez tranguille I will Papa, I will.” Perlahan aku keluar, Mama memegangiku. Tiba-tiba salah seorang dari mereka melihat kami. Kami bergegas.

“Noubliez pas, Anna, ‘Asyhaduanla ilaha…..”

“Illallah, wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah…” Aku dan Mama membalas, lalu kami pergi. Para penjahat itu mulai berkumpul.

“Ingat cita-cita Papa, pouppete, F-16 burung besi kecintaan Papa. Wujudkan cita-cita Papa, Noubliez pas! J’etaime, J’etaime Isabell, J’etaime Anna!”

“J’etaime Papa! J’etaime”

“J’etaime Charles! J’etaime Mama dan aku lalu pergi berlari. Aku memimpin mengikuti arah bintang, semak-semak belukar yang melukai kakiku, tidak kuingat lagi.

Pardoner Papa!

Aku tidak ingat lagi ketika tiba di tempat pemblokiran polisi bagaimana kami menjelaskan kejadiannya, lalu masuk ke hutan dengan polisi. Aku tidak ingat bagaimana para biadab itu terkepung. Aku bermimpi, di suatu tempat, putih, dan halus. Papa!

“Wonderful ma pouppete. Kau berhasil. Sekarang jaga mamamu. Papa akan ke tempat yang akan berkumpul bersama lagi. N’oubliez pas! God is with whom is patient! Wujudkan cita-cita Papa. Goodbye ma pouppete! Lalu sosok Papa menghilang, pandanganku berputar, lalu aku terbangun. Wajah yang saat itu aku lihat, Mama!

“Oh, Anna. Anna, be patient. Papa is gone. He’s with Lord Now.” Mama lalu memelukku erat.

“Kami berterima kasih,” tiba-tiba seorang berkulit hitam berbicara. Wajahnya sedih sekali,” Papamu telah menyelamatkan hidupku. Dia melindungiku dari tembakan biadab-biadab itu. Papamu tidak menderita, dia pergi dengan senyum di wajahnya. Dia teus mengucap ‘Allah…Allah’, dan dia sempat meninggalkan pesan untukmu,” Anna, ma pouppete, jaga mamamu. Ingat cita-cita Papa. Preir to Dioer, J’etaime…” aku menangis, Mama juga. Papa kini telah pergi, tapi ke tempat yang lebih baik. Sampai aku juga kesana. Wait for me, Papa. I’ll make your dreams come true. J’etamine..

***

Papa mendapat gelar kehormatan dari pemerintah AS. Hidup Mama dan aku mendapat tunjangan, dan aku mendapat beasiswa. Aku melanjutkan ke sekolah militer. Mama, dengan tabah, membangun kembali dirinya. Beliau mengajar sastra Perancis di universitas-universitas Portland dan Seattle. Mama juga aktif mendakwahkan Islam di berbagai tempat. Perlahan kami membangun kembali keluarga kami, grandma bahkan memaafkan mama dan memutuskan untuk pindah ke Amerika untuk membantu Mama. Namun dengan hakus Mama menolak. Katanya, “I can raise my own child, trust me momm.”

***

Mesin pesawat berbunyi halus. Sayap F-16 yang kokoh ini membawaku terbang ke angkasa. Hari ini, Anna Marie Fatimah Jacquet, penerbang muslimat pertama, mewujudkan cita-cita Papa. Terus membumbung tinggi ke langit yang dicintai Papa.

A’toute a I’houre Papa. Sampai kita bertemu kembali….( Nur)

Keterangan:

N’oubliez pas: jangan lupa

Soyez tranguille: jangan khawatir

Allez vouz-en: larilah

A’toute I’heure: selamat tinggal

J’etaime aku mencintaimu

Chest la vie: inilah hidup

Aller puor tranguille: pergilah ke kamar

Harlem: tempat perkampungan orang-orang negro

Penulis :Ulfah Mardhiah Siregar

Annida No.21/XI

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: